Rabu, 24 April 2013

Fotografi Menular !


Seperti virus, ternyata fotografi itu menular. Walaupun ngga bikin ingus meler ataupun kekebalan tubuhmu rontok, fenomena penularan ini belum dapat dikategorikan sebagai sesuatu yang membawa dampak positif bagi kemaslahatan hidup orang banyak. Penularan ini tidak memandang umur, jenis kelamin, status sosial dsb. dan tampaknya terjadi melalui kontak langsung. Peristiwa ini teramati oleh penulis dan beginilah kejadian selengkapnya.

Selasa sore di Changi, sedang duduk bosan menunggu boarding menuju Jakarta. Awan mendung rata menutupi langit biru dengan warna abu-abu yang tidak menarik membuat semua yang terlihat mata ini seakan flat 2 dimensi dan tidak berwarna. Sungguh bukan hari yang cocok untuk berfoto ria.

Tetapi agak jauh di depan sebelah kanan, seorang gadis umur yah...20an tiba-tiba mengeluarkan kamera SLR dan mulai membidikan lensanya ke arah landasan. Dari raut wajahnya terlihat betapa dia begitu antusias berkali-kali menekan shutter sambil membidik ke kiri dan kanan. Mungkin kamera baru, atau baru pertama lihat pesawat. Tetapi tidak cukup sampai di situ.

Dia celingukan sebentar kemudian mendekati seorang bapak yang sedang duduk ngantuk. Dengan sopan gadis itu membujuk bapak yang tidak pernah dia temui sebelumnya ini untuk mengambil gambar dirinya dengan latar belakang landasan pacu dan pesawat Airbus yang sedang mengisi bensol. Bapak itu bingung sebentar kemudan berdiri mengikuti gadis itu menuju spot yang dimaksud.

Satu jepretan, dua jepretan. Sang bapak menyerahkan kamera kembali ke si gadis. Si gadis melihat sekilas pada hasilnya dan raut wajahnya menunjukan dia kurang puas dengan hasilnya. Tentu saja, karena saat itu dia berada di dalam ruangan dan sumber cahaya utama ada di luar. Tanpa melihat juga tau kok, pasti pencahayaan fotonya timpang. Dia utak atik kameranya sebentar, kemudian menyerahkan kembali ke bapak itu yang kaget karena ditugasi kembali untuk jadi juru foto.

Setelah sesi ke dua ini sang gadis berterimakasih kepada si bapak dan tanpa melihat hasilnya langsung berlalu menuju lokasi berikutnya. Tampaknya dia sudah memutuskan akan hunting di Changi sampai pesawatnya berangkat. Tinggalah si bapak yang sekarang sudah hilang ngantuknya. Dan aha... tak lama kemudian sang bapak mulai mengeluarkan kamera pocket-nya dan mulai jepret sana dan sini.

Mungkin tahun depan bila bertemu bapak yang sama, beliau sudah nenteng kamera Holga warna hijau army dan terdaftar sebagai pengurus Lomo club. Mungkin terlalu dini untuk mengambil kesimpulan bahwa bapak tersebut telah tertular virus fotografi. Tetapi yang pasti, bila fotografi menular, dan pada akhirnya semua orang adalah fotografer, fotografer profesional tetap akan dibutuhkan. Seperti menulis, semua orang bisa menulis, tetapi profesi penulis tetap ada tokh? pis.

jeffman

pesawat amphibi
Bisa di darat, air dan udara :D

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar